Pangebatan.desa.id..Salah satu tugas sekolah adalah ikut melestarikan dan mengembangkan budaya daerah dan nasional. Budaya Jawa yang begitu beragam tampaknya banyak dilupakan masyarakat Jawa sendiri. Tanpa sadar mereka tak lagi merasa bangga memiliki budaya yang adi luhung itu. Bahkan ketika budaya itu hilang dan berpindah kepemilikannya pun masih saja bangsa kita tak merasa kehilangan.

Beberapa kesenian dan budaya telah banyak yang diklaim oleh bangsa lain. Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu kita banyak berebut kepemilikan beberapa seni dan budaya dengan negara jiran Malaysia. Mulai dari tari Tor-Tor, Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange, masalan rendang hingga seni batik, pernah diklaim milik Malaysia sehingga kita terpaksa harus bereaksi keras untuk mengembalikan hak milik kita.

Untuk mengupayakan kesadaran penyelamatan seni dan kebudayaan kepada generasi muda kita, salah satu tugas sekolah adalah ikut mengenalkan dan melestarikan budaya tersebut. Salah satu seni budaya yang dimiliki masyarakat Jawa dan hampir tak lagi dikenali generasi muda adalah seni macapat. Seni macapat ini hampir tak lagi mendapat tempat di masyarakat sendiri. Oleh karena itu berbagai upaya untuk menyelamatkan keberadaannya harus dilakukan.

RRI Purwokerto sebagai lembaga penyiaran yang juga memiliki tugas mengembangkan dan melestairikan budaya nusantara, memiliki program berupa ‘Siaran Apresiasi Seni Macapat’. Program tersebut diperuntukkan bagi siapa saja utamanya bagi para pelajar.

Untuk kelancaran program siaran tersebut RRI Purwokerto terus menggandeng beberapa lembaga pendidikan untuk mengisi acara tersebut. Salah satu di antaranya adalah SD Negeri Pangebatan yang dianggap mampu untuk mengisi siaran tersebut.

“Kebetulan pihak RRI mempercayakan SD Negeri Pangebatan untuk mengisi acara tersebut,” ungkap Marsiyem S.Pd. selaku guru pembina seni macapat di SDN Pangebatan. “Sebenarnya pihak RRI telah menghubungi beberapa sekolah lain, namun tidak ada yang bersedia. Akhirnya jatuhlah tugas itu ke sekolah kami.”

Melalui penaggungjawab acara, Slamet DW., pihak RRI mengundang dan meminta SDN Pangebatan untuk mengisinya. Karena ini merupakan kesempatan langka untuk memberikan pengalaman bagi para siswa, pihak sekolah pun tak berkeberatan meski waktu untuk persiapan cukup limit.

“Waktu untuk latihan sangat mepet, namun saya percaya anak-anak mampu karena di sini ada pelatih dan pembina seni macapat yang handal yakni Ibu Marsiyem,S.Pd.” ujar Kepala Sekolah Riyadi.

Pernyataan itu ternyata memang terbukti. Dalam waktu kurang dari 10 hari para siswa dilatih ternyata mereka bisa membuktikan kemampuannya. Dan acara rekaman pun dilakukan pada hari Rabu (28/8) di Studio Satria 5 RRI Purwokerto.

Acara yang berdurasi 1 jam itu dikemas dengan konten antara lain; dialog dengan tema tembang macapat, gladen tembang macapat, dan nyekar tembang Maskumambang, Gambuh, Kinanti, Pucung, dan Megatruk. Sebanyak 10 siswa dan 4 orang guru terlibat dalam pengisian acara tersebut. kesepuluh siswa tersebut antara lain; Sintha Aulia Putri, Jasmine Febriyanti, Alin Aprilia,Anistya Stephani, Rahayu Setyaningsih, Ananda Nisa, Ridwan Nur Cholis, Johan Mukti, Adika Kusnul, dan Arya.

Tidak saja membina, para guru juga terlibat langsung dalam acara tersebut. Bahkan beberapa guru ikut serta nyekar tembang macapat tersebut.

Acara yang yang bertajuk ‘Apresiasi Seni Macapat’ itu rencananya akan disiarkan secara tunda pada hari Minggu, tanggal 1 September pukul 16.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB melalui saluran FM 98,6 MHz, 93,1 MHz dan RRI Play Pro 1 RRI Purwokerto.”Kami berharap para siswa, guru, wali murid, dan masyarakat Pangebatan kiranya dapat mengapresiasinya dengan mengikuti siaran tersebut pada hari dan jam yang sudah ditentukan,” ujar Riyadi.

Ketika ditanya kesan mengikuti siaran tersebut mereka mengatajkan sangat suka. “Saya sangat senang ikut siaran itu karena mendapat pengalaman siaran di RRI,” ujar Sinta Aulia siswa kelas 6 yang ikut nyekar Maskumambang dan Kinanti dengan suaranya yang sangat membanggakan. Hal yang sama juga diungkapkan Ridwan Nurkcolis siswa yang juga ikut terlibat dalam pengisian siaran tersebut.

Sementara pihak sekolah sangat mengapresiasi dan merasa berbangga hati karena dengan demikian tugas sekolah sebagai lembaga pengebang budaya sedikit banyak telah terwujud. Dengan berharap semoga apa yang dilakukan sekolah dapat bermanfaat bagi siswa, masyarakat dan bangsa ini@ (riyadi)