Pangebatan.desa.id. Batik merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang adiluhung dan diakui dunia. Untuk mendapatkan legitimasi dunia sebagai warisan budaya asli Indonesia tidaklah mudah. Dibutuhkan perjuangan cukup panjang. Sekitar 10 tahunan sejak batik didaftarkan sebagai kekayaan budaya Indonesia lisan non fisik melalui Unesco, baru dapat dilegitimasi oleh badan dunia yang bergerak dalam bidang kebudayaan tersebut beberapa tahun lalu. Bahkan kekayaan budaya bangsa kita itu tak luput dari klaim negara jiran Malaysia yang mengakui bahwa batik adalah warisan budaya mereka.

Mengingat betapa panjangnya waktu untuk berjuang agar diakui bangsa-bangsa lain, maka pantaslah ketika kita harus bersyukur dan berbangga hati atas warisan budaya tersebut. Salah satu apresiasi kita sebagai bangsa Indonesia adalah menjadikan tanggal disahkannya batik itu sebagai warisan leluhur bangsa Indionesia, maka tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional sebagaimana ditetapkan melalui peraturan presiden yang saat itu di zaman Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Kiranya tak sekadar cukup kita mengakui saja, lebih dari itu bangsa kita sendiri perlu menjaga dan mengembangkan sebaik-baiknya. Salah satu usaha itu adalah mencintai batik Indonesia. Caranya adalah mengenalkan dan mengenakan batik kepada seluruh bangsa Indonesia sejak dini. Setidaknya itulah yang menjadi alasan dan dasar SD Negeri Pangebatan mengadakan kegiatan Gelar Fashion Show Batik di Hari Batik Nasional yang dilaksanakan Rabu (2/10) kemarin.

Bertempat di halaman SDN Pangebatan, kegiatan Gelar Fashion Show Batik dilakukan dengan melibatkan seluruh siswa yang berjumlah tak kurang dari 430 siswa. Mereka berjalan di atas chatwalk sederhana di halaman sekolah dan dinilai oleh dewan juri yang berasal dari para guru mereka. Dengan berjalan berpasangan di atas chatwalk mereka mengenakan baju batik dan memperagakan gaya layaknya para peraga busana profesional.


Meski kegiatan tersebut dilaksanakan dengan sederhana namun tak mengurangi makna dan antusias anak-anak. Mereka sangat berani untuk melakukan apa yang diharapkan para juri. Dari sejumlah 430 siswa mulai dari kelas I hingga kelas VI dewan juri memilih sebanyak 10 siswa putra dan 10 siswa putri di babak penyisihan. Dari 20 siswa tersebut kemudian dilakukan tahap final untuk menentukan 6 peserta terbaik. Dewan Juri menentukan aspek penilaian yang cukup simpel. Mereka hanya menilai janis atau corak batik, gaya dan penampilannya, keluwesan, dan kerapiannya.


Dasar kriteria tersebut terpilih sebanyak 3 laki-laki dan 3 perempuan dengan hasil sebagai berikut; Juara pertama putri atas nama Sinta Aulia Putri, kelas 6C. Juara dua atas nama Shela kelas 5A, juara tiga kategori putri adalah Dini kelas 6B. Sementara di ketgori putra, dinyatakan terbaik pertama, Johan kelas 5A, terbaik kedua Al Ghafi kelas 6B ,sedangkan terbaik ketiga Jovan Pradipta Anwar kelas 3A Sebagai apresiasi kepada para pemenang, sekolah memberikan penghargaan berupa hadiah dan piagam. “Hadiah bukanlah tujuan utama, yang lebih penting adalah Hari Batik Nasional kita meriah. Anak-anak juga mengenal dan mencintai batik. Di samping itu memberikan wadah untuk membangkitkan keberanian siswa tampil di depan umum,” kata Riyadi, Kepala Sekolah SDN Pangebatan.

Kecuali kegiatan itu, untuk lebih menyemarakkan Hari Batik tersebut, sekolah juga memasang poster bercorak batik dan hiasan-hiasan bercorak batik di sekolah. “Tujuannya utamanya untuk menyemarakkan hari batik sesuai dengan perintah Mendikbud yang disampaikan melalui surat edarannya sehari sebelum hari batik itu,” kata Warsiti,S.Pd. salah satu guru di SDN Pangebatan(riy).